Setengah Mitos Bambu Runcing

DALAM suatu wawancara, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution ditanya: apakah bambu runcing pernah benar-benar menjadi senjata ampuh perjuangan, atau itu hanya mitos?
“Adalah setengah mitos,” jawab Nasution dalam Bisikan Nurani Seorang Jenderal, “di minggu-minggu pertama merdeka maka rakyat dengan bambu runcing seakan-akan pagar betis menjadi kekuatan untuk memaksa pejabat di kantor, lingkungan, pabrik, dan lain-lain agar taat kepada RI. Tapi, pada pertempuran real, bambu runcing itu lebih banyak jadi senjata semangat.”

71RI

Di beberapa daerah, terdapat monumen bambu runcing. Ini melengkapi glorifikasi sejarah nasional yang dibangun Orde Baru bahwa merebut dan mempertahankan kemerdekaan seolah hanya melalui perjuangan bersenjata. Padahal perjuangan politik dan diplomasi juga memainkan peran penting.

Menurut R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali!, bambu runcing mulai dikembangkan semasa pendudukan Jepang, yang terkenal dengan sebutan takeyari. Senjata ini digunakan untuk menghadang pasukan payung musuh yang diterjunkan dari udara. Tentara Jepang juga melatih laki-laki dan perempuan cara menggunakan takeyari, yang kalau digunakan biasanya dibarengi teriakan keras dan pekik kemarahan. “Seperti layaknya seorang prajurit dengan senapan yang bersangkur,” tulis Saleh.

Latihan bahaya udara digiatkan terutama ketika Jepang kian terdesak Sekutu. Rakyat dilatih perang-perangan. Sawah-sawah dipasangi bambu runcing untuk merintangi penerjunan tentara musuh.

Namun, bambu runcing pula yang digunakan pejuang Republik untuk menghadapi Jepang. Tak hanya para pejuang dari kelaskaran yang menggunakan bambu runcing. Sebagian besar anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) juga menggunakan bambu runcing. Maklum, setiap kesatuan BKR –menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945– hanya memiliki senjata api tidak lebih dari satu persen, terutama dipegang para komandan.

“Dengan senjata bambu runcing itu, mereka mencari bedil,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional Volume 2.

Ini antara lain dilakukan Hizbullah di Magelang ketika menyerbu butai Jepang yang menjadi gudang senjata. Dari sinilah mereka mendapatkan senjata.

“Menyerbu dengan bambu runcing di tangan?” tanya KH Saifuddin Zuhri, dalam otobiografinya Guruku Orang-orang dari Pesantren.

“Ya, dengan bambu runcing!” jawab Kiai Mu’awwam. “Bambu runcing di tangan orang pemberani lebih ampuh daripada mitraliur di tangan orang yang gemetar ketakutan. Jepang dalam keadaan ketakutan menghadapi pemuda-pemuda yang tengah berang dengan tekad ‘mati syahid’.”

Sewan Susanto menjelaskan, karena bambu runcing bermanfaat dan mudah didapat, ia menjadi simbol senjata perang kemerdekaan Indonesia.

“Senjata bambu runcing tidak untuk melawan Belanda secara langsung melainkan merupakan senjata untuk menjaga keamanan oleh rakyat dan untuk latihan bela diri bagi para pemuda di daerah-daerah,” tulis Sewan Susanto dalam Perjuangan Tentara Pelajar dalam Kemerdekaan Indonesia.

***

Dikutip dari Historia[dot]id

 

Dipublikasi di Politik, Sejarah, Sekitar Kita, Serba-serbi, Sosial-Budaya | Tag , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Zakat Harta Untuk Pembangunan Masjid Dan Sekolah

Abdullah Roy di Blog pribadinya, tanyajawabagamaislam.blogspot.co.id, menjawab pertanyaan “Apakah boleh mengeluarkan zakat harta untuk keperluan pembangunan masjid dan madrasah?” (Zain), menjawab:

Allah ta’alaa telah menyebutkan bahwa zakat harta hanya untuk 8 golongan , sebagaimana tersebut di dalam ayat: (QS. 9:60)

Kata إنما (sesungguhnya hanya saja) adalah untuk pembatasan, dan pembangunan masjid serta sekolah tidak termasuk dalam 8 golongan tersebut.
Dan tidaklah pembangunan masjid dan madrasah masuk dalam firman Allah: وفي سبيل الله karena yang rajih bahwa (في سبيل الله) di dalam ayat di atas maksudnya adalah jihad dalam arti khusus yaitu jihad (memerangi) orang kafir untuk membeli perlengkapan yang diperlukan untuk perang dll, karena seandainya yang dimaksud adalah semua pintu-pintu kebaikan maka masuk di dalamnya semua golongan, dan pembatasan menjadi tidak ada faidahnya.

Berkata Ibnu Zaid ketika menafsirkan وفي سبيل الله:
الغازي في سبيل الله
“Orang yang berperang di jalan Allah” (Dikeluarkan oleh Ath-Thabary dalam Tafsirnya 14/319)

Berkata Ath-Thabary:
وأما قوله:(وفي سبيل الله)، فإنه يعني: وفي النفقة في نصرة دين الله وطريقه وشريعته التي شرعها لعباده، بقتال أعدائه، وذلك هو غزو الكفار.
“Dan adapun firman Allah: :(وفي سبيل الله) maka maksudnya adalah nafkah dalam menolong agama Allah, jalanNya, dan syari’atNya yang telah Allah syari’atkan untuk hamba-hambaNya, dengan memerangi musuh-musuhNya, dan yang demikian itu adalah peperangan dengan orang-orang kafir” (Tafsir Ath-Thabary 14/319)

Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalany:
وأما سورة التوبة الآية 60 وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ فالأكثر على أنه يختص بالغازي غنيا كان أو فقيرا
“Adapun surat Taubat ayat 60 (وفي سبيل الله) maka sebagian besar ulama berpendapat bahwa ini khusus untuk orang yang ikut perang, baik orang kaya maupun miskin” (Fathul Bary 3/59)

Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz:
الصحيح أن المراد بقوله سبحانه : سورة التوبة الآية 60 وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ عند أهل العلم هم الغزاة والجهاد في سبيل الله ، فلا تصرف في المساجد ولا المدارس عند جمهور أهل العلم . وذهب بعض المتأخرين إلى جواز صرفها في المشاريع الخيرية ، ولكنه قول مرجوح ؛ لأنه يخالف ما دلت عليه الأدلة ، ويخالف ما مضى عليه أهل العلم .
“Yang shahih bahwa yang dimaksud dengan (وفي سبيل الله) dalam surat Taubat ayat 60 menurut para ulama adalah orang-orang yang ikut perang dan jihad di jalan Allah, maka tidak boleh dikeluarkan untuk masjid dan madrasah menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama zaman sekarang membolehkan mengeluarkan zakat untuk kegiatan-kegiatan sosial, akan tetapi ini pendapat yang tidak kuat, karena menyelisihi dalil dan menyelisihi apa yang sudah dilakukan para ulama ” (Majmu’ Fatawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz 14/197)

Al-Lajnah Ad-Daimah juga merajihkan pendapat ini dan mengatakan bahwa ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir, ahli hadist, dan ahli fiqh. Dan mereka menambahkan bahwa kalau tidak ditemukan orang yang berhak mendapat zakat dari 8 golongan tersebut maka boleh dipergunakan untuk pembangunan sarana umum seperti masjid dll. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 10/47-48).
Wallahu a’lam.

Sumber : TanyaJawabIslam

Dipublikasi di Celoteh, Sekitar Kita, Sosial-Budaya, Uncategorized | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar