Garis

Petir
Sang kilat melewati cakrawala malam. Wajah langit seketika terang benderang oleh sinarnya. Sang rembulan yang tampak redup, tertutup awan gemawan yang berpawai di atas bumi. Gerimis masih hiasi malam, berpesta dengan rintikan lembutnya.
Sepi
Lidahku terasa kaku. Berhenti tepat di depanmu. Ada kata yang terkunci. Kata yang indah. Seperti dulu…
Sendiri
Berdiri dalam pelukan alam. Pepohonan yang basah, rumput yang diam, tanah yang becek, hari yang gelap. Ranting yang patah, jatuh dari pepohonan tinggi. Dan terkulai kalimat saktiku.
Ada apa?
Ada jeratan tak terlihat. Menyayat kepedihan, menjadi dua. Menambah luka. Seluruh pengorbanan yang hangus, terkikis dan menjadi debu. Terseret angin, tersapu badai, dan terhempas dalam gelombang. Ough!…
Tapi tidak. Bukan itu…yang kontradiktif…yang ambivalen…? atau yang tersisih, yang termarjinal…apakah benar?
Apakah dua sisi mata uang, dan pribadi ganda?
Dan semakin menjemukan, yang meradang, memuakkan, gerah…
Kucoba lepaskan. Jubah yang gerahkanku. Mainkan nada senduku. Di kiasan angin. Yang tertidur pulas setiap kalimatku…untuk ungkapkan :
“Aku Sayang Kamu”

Source: elgibrany

Posted in Celoteh, Prosa, Uncategorized | Tagged , , | 2 Komentar

Kelana

kelana elgibranyWaktu adalah pengulangan.
Pengulangan-pengulangan sesuatu seperti roda…

Pagi ini…aku lagi-lagi bangun kesiangan, lagi-lagi gak sempet mandi, lagi-lagi gak sempet gosok gigi, lagi-lagi dompet gak keisi…lagi-lagi
Aku keluar rumah jam setengah delapan pagi, lewat jalan seperti kemarin, lagi-lagi ketemu orang yang sama di gang itu, baca poster yang sama di tembok gang itu, baca coretan-coretan yang sama di dinding itu lagi…semuanya berulang…
lagi-lagi aku makan di warung itu, pesen makanan yang sama, minuman yang sama…dan rokok eceran yang sama…

Source: elgibrany

Posted in Celoteh, Prosa, Uncategorized | Tagged , | Tinggalkan komentar

Catatan yang Hilang (Tentang Bunga)

elgibrany[intro]
Kurengkuh cahaya malam, Bintang yang hiasi langit malam, dan sinar-sinar dingin lampu-lampu malam.
Kualunkan keheningan dari rimba malam dan menatap bidadari dari balik awan.

[Bagian 1]
Coba hilangkan sayap-sayap kecil misteri yang terbang mengitari sisi jiwa. Yang menghinggapi lusuh sanubari, terkoyak hasrat yang menggebu.
Sang gadis tersenyum. Menatap manja, bersemi bersama musim periang.
Sedikit resah, gundah, dan keraguan yang dalam…kini bunga tak seperti yang dulu. Sperti bunga yang mengering, dengan mahkota yang gugur satu persatu. Mengapa tetap yang terindah?
Dengan catatan yang kusam saat kau pergi dengannya, seorang yang lain.

[Bagian 2]
Jika mungkin, aku ingin menyebut namamu. Dan bila saja aku lebih berani, akupun akan tulis namamu disini. Sayangnya aku tidak berani melakukannya…

Ada nama yang kerap kusebut. Sebagai mimpi terindah dan khayalan termanis. Aku mencintaimu juga merahasiakan hatiku untuk kamu.
Tentang seberapa dalam cintaku, aku tak akan pernah mengerti. Tapi apa pedulimu padaku?
Yang aku tahu hanyalah cinta, yang tidak kau ketahui sampai aku mengatakannya kepadamu “aku cinta kamu”
Tapi, sanggupkan aku? Lalu? Apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya mulai bertanya-tanya yang tidak-tidak, yang bukan-bukan, segala rasa tentang suka, tentang duka, keindahan, kepedihan dan penyesalan.
Sampai kapan?

Source: elgibrany

Posted in Celoteh, Prosa | Tagged , , | Tinggalkan komentar