Petir
Sang kilat melewati cakrawala malam. Wajah langit seketika terang benderang oleh sinarnya. Sang rembulan yang tampak redup, tertutup awan gemawan yang berpawai di atas bumi. Gerimis masih hiasi malam, berpesta dengan rintikan lembutnya.
Sepi
Lidahku terasa kaku. Berhenti tepat di depanmu. Ada kata yang terkunci. Kata yang indah. Seperti dulu…
Sendiri
Berdiri dalam pelukan alam. Pepohonan yang basah, rumput yang diam, tanah yang becek, hari yang gelap. Ranting yang patah, jatuh dari pepohonan tinggi. Dan terkulai kalimat saktiku.
Ada apa?
Ada jeratan tak terlihat. Menyayat kepedihan, menjadi dua. Menambah luka. Seluruh pengorbanan yang hangus, terkikis dan menjadi debu. Terseret angin, tersapu badai, dan terhempas dalam gelombang. Ough!…
Tapi tidak. Bukan itu…yang kontradiktif…yang ambivalen…? atau yang tersisih, yang termarjinal…apakah benar?
Apakah dua sisi mata uang, dan pribadi ganda?
Dan semakin menjemukan, yang meradang, memuakkan, gerah…
Kucoba lepaskan. Jubah yang gerahkanku. Mainkan nada senduku. Di kiasan angin. Yang tertidur pulas setiap kalimatku…untuk ungkapkan :
“Aku Sayang Kamu”
Source: elgibrany



